Panen Raya Padi Mayas di Ladang Ketua PKK Kampung Lotaq, Inspirasi Ketahanan Pangan dari Tradisi Dayak
Ketua PKK Kampung Lotaq Margaretha Yulia Samar bersama warga panen padi varietas Mayas dengan ani-ani tradisional. Wujud ketahanan pangan berbasis kearifan lokal Dayak.
Redaksi Kampung Lotaq
Penulis
KAMPUNG LOTAQ — Suara dentingan ani-ani, alat panen tradisional masyarakat Dayak, terdengar bersahutan dari ladang milik Ketua Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kampung Lotaq pada Sabtu pagi, 3 Mei 2026. Bukan sekadar kegiatan pertanian biasa, panen raya padi Mayas ini menjadi simbol pelestarian kearifan lokal sekaligus aksi nyata pemberdayaan perempuan dalam mewujudkan ketahanan pangan kampung.
Sejak matahari belum sepenuhnya menerangi punggung bukit di wilayah Kampung Lotaq, puluhan warga sudah berkumpul. Ibu-ibu berkerudung mengikat selendang di pinggang, bapak-bapak menyiapkan karung dan ani-ani, sementara anak-anak berlari riang di pematang ladang. Hari itu, ladang milik Ibu Margaretha Yulia Samar, Ketua PKK Kampung Lotaq, menjadi pusat aktivitas seluruh kampung.
Ani-ani: Warisan Leluhur yang Tetap Hidup
Yang membuat panen raya ini istimewa adalah penggunaan ani-ani, alat panen tradisional khas masyarakat Dayak yang sudah digunakan sejak ratusan tahun. Ani-ani adalah pisau kecil yang dipegang di telapak tangan, digunakan untuk memotong tangkai padi satu per satu.
Penggunaan ani-ani bukan tanpa alasan. Alat tradisional ini diyakini menjaga kualitas butir padi karena pemotongan dilakukan dengan presisi, satu per satu, tanpa merusak gabah. Selain itu, ani-ani memungkinkan seleksi alami terhadap bulir padi yang benar-benar matang sempurna.
Lebih dari sekadar alat, ani-ani adalah simbol budaya yang menghubungkan generasi muda dengan kearifan leluhur. Di tengah modernisasi pertanian dengan mesin combine harvester, masyarakat Dayak Kampung Lotaq memilih melestarikan cara tradisional yang terbukti berkelanjutan.
Padi Mayas: Varietas Premium Kebanggaan Dayak
Padi yang dipanen pada hari itu adalah varietas Mayas, salah satu varietas padi lokal kebanggaan masyarakat Dayak Kalimantan. Padi Mayas dikenal dengan aroma harum khas, tekstur nasi yang pulen, dan nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan beberapa varietas modern.
Pemilihan padi Mayas bukan hanya soal selera, melainkan juga strategi kedaulatan pangan. Varietas lokal ini telah teruji adaptif dengan kondisi tanah dan iklim Muara Lawa selama generasi. Dengan menanam Mayas, masyarakat Kampung Lotaq menjaga kedaulatan benih lokal sekaligus melestarikan keanekaragaman hayati pertanian Indonesia.
Ladang ini dikelola secara mandiri oleh Ibu Margaretha Yulia Samar sebagai bentuk teladan. Beliau ingin menunjukkan bahwa siapa pun, dengan kemauan dan kerja keras, dapat menghidupkan kembali tradisi berladang yang dulu menjadi tulang punggung kehidupan Kampung Lotaq.
Pesan dari Sang Ketua PKK
Di sela-sela kegiatan, Ibu Margaretha Yulia Samar menyampaikan pesan yang menyentuh hati seluruh warga yang hadir:
“Ini ladang saya pribadi, dan ini menjadi contoh bagi kita bersama. Ayo semangat untuk berladang!”
Kata-kata sederhana itu memiliki makna mendalam. Ibu Margaretha tidak meminta warga melakukan sesuatu yang ia sendiri tidak lakukan. Ia turun langsung, membuka ladang, menanam, merawat, dan kini memanen. Kepemimpinan melalui keteladanan (lead by example) inilah yang membuat warga termotivasi untuk mengikuti jejaknya.
Semangat berladang yang ditularkan Ketua PKK ini menjawab kekhawatiran banyak pihak tentang regenerasi petani di kampung-kampung Indonesia. Ketika anak muda lebih tertarik bekerja di sektor non-pertanian, kehadiran sosok seperti Ibu Margaretha menjadi pengingat bahwa pertanian adalah pilar peradaban.
Wujud Nyata Visi “Maju Mandiri Sejahtera”
Kegiatan panen raya ini selaras dengan visi pembangunan Kampung Lotaq, “Maju Mandiri Sejahtera”, yang dicanangkan Petinggi Kampung KARYA MUSNI. Y. Khususnya pada pilar Mandiri, kampung didorong untuk menghasilkan kebutuhan pangan dari sumber daya yang dimiliki sendiri.
Pemerintah Kampung Lotaq melihat kontribusi PKK sebagai kekuatan strategis dalam mencapai visi tersebut. PKK tidak hanya berperan dalam ranah domestik, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi keluarga melalui pertanian, pengolahan hasil, dan pelestarian tradisi lokal.
Posisi Kampung Lotaq sebagai bagian dari Kecamatan Muara Lawa, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur, memberikan keuntungan geografis yang signifikan. Tanah yang subur di kaki perbukitan, ketersediaan air, dan iklim tropis yang konsisten menjadi modal alam yang luar biasa untuk pertanian.
Gotong Royong, Tradisi yang Tak Lekang Waktu
Yang membedakan panen raya Kampung Lotaq dengan praktik pertanian modern lainnya adalah semangat gotong royong yang masih terjaga utuh. Warga datang tanpa pamrih, membawa peralatan masing-masing, dan bekerja bersama dari pagi hingga siang.
Selama proses panen, tidak ada hierarki yang kaku. Ibu Margaretha turun langsung ke ladang, ikut menggenggam ani-ani, dan duduk bersama warga saat istirahat. Ibu-ibu menyiapkan hidangan sederhana namun penuh makna: nasi liwet dari padi Mayas sebelumnya, ikan bakar dari sungai, dan sayuran dari kebun masing-masing.
Anak-anak yang ikut hadir mendapatkan pelajaran berharga yang tidak ada di sekolah formal: bagaimana padi tumbuh, bagaimana memotongnya dengan ani-ani, dan bagaimana merayakan keberhasilan panen bersama-sama. Inilah pendidikan kearifan lokal yang ditransfer dari generasi ke generasi.
Hasil Panen untuk Lumbung dan Bibit
Hasil panen padi Mayas tidak langsung dijual ke pasar. Sebagian besar disisihkan untuk lumbung pangan keluarga, menjadi cadangan beras bagi keluarga Ibu Margaretha. Sebagian lagi disimpan sebagai bibit (benih) untuk musim tanam berikutnya, memastikan kelangsungan varietas Mayas tetap terjaga di Kampung Lotaq.
Strategi ini sangat strategis. Dengan menyimpan sebagian hasil sebagai benih, Kampung Lotaq menjaga kedaulatan benih lokal dan tidak bergantung pada pasokan benih komersial dari luar. Inilah esensi sesungguhnya dari ketahanan pangan: bukan hanya tentang stok beras, tetapi juga tentang kemampuan memproduksi pangan secara berkelanjutan.
Model ini menciptakan siklus pertanian yang mandiri dan memperkuat ketahanan pangan kampung. Ketika kampung lain harus membeli benih setiap musim, Kampung Lotaq melalui inisiatif Ketua PKK-nya sudah membangun sistem yang berkelanjutan.
Inspirasi untuk Kampung Lain
Praktik yang dilakukan Ibu Margaretha Yulia Samar layak menjadi model bagi kampung-kampung lain di Kalimantan Timur, bahkan Indonesia. Kombinasi antara kepemimpinan perempuan, pelestarian kearifan lokal Dayak, dan pemanfaatan sumber daya lokal adalah resep yang teruji efektif.
Tema Swasembada Pangan yang menjadi fokus Lomba Desa/Kampung Berprestasi Kementerian Dalam Negeri tahun ini, sejatinya bukan hanya tentang angka produksi. Lebih dari itu, ia berbicara tentang sistem, budaya, dan keberlanjutan. Dan Kampung Lotaq melalui PKK-nya sedang menunjukkan bahwa hal itu bisa diwujudkan dengan tetap menjaga akar budaya.
Langkah ke Depan: Padi dan Olerikultura
Setelah panen raya ini, Ibu Margaretha Yulia Samar sudah memiliki rencana untuk musim tanam berikutnya. Rencananya, ladang akan kembali ditanami padi Mayas sebagai komoditas utama, dipadukan dengan tanaman olerikultura atau tanaman sayuran sebagai diversifikasi.
Penanaman olerikultura — seperti sawi, kangkung, bayam, terong, cabai, dan tomat — akan memberikan manfaat ganda. Pertama, memperkaya nutrisi keluarga dengan sayuran segar tanpa pestisida. Kedua, memutus siklus hama padi melalui rotasi tanaman. Ketiga, memberikan tambahan penghasilan dari penjualan sayuran ke warga sekitar.
Pemerintah Kampung Lotaq juga berencana memberikan dukungan formal kepada inisiatif Ketua PKK ini, baik melalui anggaran kampung maupun fasilitasi pelatihan pertanian modern yang ramah lingkungan dan tetap menghormati kearifan lokal.
Hari itu, ketika senja mulai turun dan padi Mayas telah tersusun rapi di dalam karung, ada lebih dari sekadar hasil panen yang dibawa pulang. Ada rasa kebanggaan akan tradisi Dayak yang lestari, persaudaraan yang terus tumbuh, dan keyakinan bahwa Kampung Lotaq sedang berjalan di jalur yang benar: maju dengan tradisi, mandiri dengan inovasi, dan sejahtera dalam kebersamaan.
“Maju Mandiri Sejahtera” — slogan yang hari itu, di ladang Ibu Margaretha Yulia Samar, terasa lebih dari sekadar kata. Ia adalah kenyataan yang sedang diwujudkan, satu helai padi Mayas pada satu waktu, dengan ani-ani yang tak pernah lekang oleh zaman.
Topik Terkait
Galeri kegiatan.